Banyuasin, HidayatullahSumsel.com – Suasana semangat dan kebersamaan begitu terasa di Kampus Madya Hidayatullah Banyuasin pada Selasa (25/02). Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Sumatera Selatan menggelar acara Tarhib Ramadhan dengan tema "Muliakan Ramadhan Menuju Insan Muttaqin."
![]() |
Ustadz Lukman Hakim, ketua DPW Hidayatullah Sumsel |
Ustadz Lukman Hakim, M.H.I: Empat Nasihat Rasulullah kepada Abu Dzar Al-Ghifari
Rasulullah SAW, sang teladan umat manusia, senantiasa memberikan nasihat-nasihat berharga kepada para sahabatnya. Salah satu nasihat yang sangat mendalam dan relevan hingga saat ini adalah empat nasihat yang beliau sampaikan kepada Abu Dzar Al-Ghifari. Nasihat-nasihat ini bukan hanya sekadar kata-kata bijak, tetapi juga petunjuk jalan yang terang menuju kebahagiaan abadi.
"Perbaharuilah kapalmu (niat) karena laut itu dalam." Nasihat pertama ini mengingatkan kita akan pentingnya niat dalam setiap amal perbuatan. Niat adalah fondasi dari segala tindakan. Jika niat kita salah, maka amal yang tampak baik pun akan menjadi sia-sia. Laut yang dalam melambangkan kehidupan dunia yang penuh dengan godaan dan cobaan. Hanya dengan niat yang tulus karena Allah SWT, kita dapat mengarungi lautan tersebut dengan selamat.
"Ambilah bekal (amal ibadah) yang cukup karena perjalanannya jauh." Perjalanan yang dimaksud di sini adalah perjalanan menuju akhirat, perjalanan yang pasti akan kita tempuh. Bekal yang cukup adalah amal ibadah yang kita lakukan selama hidup di dunia. Shalat, puasa, zakat, haji, dan segala bentuk kebaikan lainnya adalah bekal yang akan kita bawa saat menghadap Allah SWT. Perjalanan ini sangatlah jauh, maka persiapkanlah bekal yang sebanyak-banyaknya.
"Ringankan beban bawaan (dosa) karena lereng bukit sulit dilalui." Setiap manusia pasti memiliki dosa. Dosa-dosa ini adalah beban yang akan memberatkan perjalanan kita menuju akhirat. Lereng bukit yang sulit dilalui melambangkan kesulitan yang akan kita hadapi saat mempertanggungjawabkan perbuatan kita di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, segeralah bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Ringankanlah beban dosa dengan memperbanyak istighfar dan amal kebaikan.
"Ikhlaslah beramal karena Allah Maha Teliti." Nasihat terakhir ini adalah puncak dari segala nasihat. Ikhlas adalah kunci diterimanya amal ibadah. Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan yang tersembunyi di dalam hati. Janganlah beramal karena ingin dipuji atau dihormati oleh manusia. Beramallah hanya karena Allah SWT, semata-mata mengharap ridha-Nya.
Empat nasihat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari ini adalah pedoman hidup yang sangat berharga. Dengan memperbarui niat, memperbanyak bekal, meringankan beban dosa, dan ikhlas dalam beramal, kita dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita di jalan yang lurus.
Ustadz Muhammad Jufri, M.Pd: Empat Golongan yang Ditunggu Surga
Pertama, para pembaca Al-Qur'an. Al-Qur'an, kalamullah yang suci, adalah petunjuk hidup yang sempurna. Mereka yang senantiasa melantunkan ayat-ayatnya, merenungi maknanya, dan mengamalkan kandungannya, adalah golongan yang dirindukan surga. Bacaan Al-Qur'an bukan hanya sekadar melafalkan huruf, tetapi juga menghayati setiap makna yang terkandung di dalamnya. Ia adalah penawar hati yang gelisah, penyejuk jiwa yang dahaga, dan penerang jalan dalam kegelapan.
Kedua, mereka yang menjaga lisan. Lisan, anggota tubuh yang kecil, namun memiliki dampak yang besar. Ia bisa menjadi sumber kebaikan, tetapi juga bisa menjadi sumber keburukan. Mereka yang mampu menjaga lisannya dari perkataan yang sia-sia, apalagi yang menyakiti hati sesama, adalah golongan yang dirindukan surga. Lisan yang terjaga adalah lisan yang senantiasa berdzikir, bertasbih, dan mengucapkan kata-kata yang baik.
Ketiga, mereka yang memberi makan kepada yang lapar. Kepedulian terhadap sesama adalah salah satu ciri orang yang beriman. Memberi makan kepada yang lapar bukan hanya sekadar memberikan makanan, tetapi juga menunjukkan rasa empati dan kasih sayang. Mereka yang gemar bersedekah, membantu yang membutuhkan, dan meringankan beban sesama, adalah golongan yang dirindukan surga.
Keempat, mereka yang berpuasa di bulan Ramadan. Ramadan, bulan penuh berkah, adalah kesempatan emas untuk meningkatkan ketakwaan. Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk kemaksiatan. Mereka yang menjalankan puasa dengan ikhlas, menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah, dan menjaga diri dari perbuatan dosa, adalah golongan yang dirindukan surga.
Keempat golongan ini bukanlah kelompok eksklusif. Setiap muslim memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari mereka. Dengan membaca Al-Qur'an, menjaga lisan, memberi makan kepada yang lapar, dan berpuasa di bulan Ramadan, kita bisa meraih kerinduan surga. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan yang dirindukan surga, dan mengumpulkan kita di surga Firdaus-Nya.
Ustadz Sapril Hadi, M.Ag: Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 183
Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan, di mana umat Islam menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Kewajiban ini ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa." Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya sekadar ritual, melainkan sebuah kewajiban yang ditetapkan oleh Allah bagi orang-orang beriman. Selain berpuasa, membaca Al-Qur’an memiliki keutamaan tersendiri, terutama di bulan Ramadan. Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an bernilai kebaikan dan dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, Ramadan menjadi momentum terbaik untuk meningkatkan interaksi dengan kitab suci ini. Membaca Al-Qur’an bukan hanya sekadar aktivitas ibadah, tetapi juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperkaya pemahaman spiritual.
Dalam Islam, puasa Ramadan memiliki makna mendalam. Secara bahasa, puasa atau siam berarti menahan diri. Secara syariat, puasa mengharuskan umat Islam menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, lebih dari itu, puasa juga menuntut pengendalian diri dari segala bentuk hawa nafsu dan syahwat yang dapat mengurangi pahala puasa. Oleh karena itu, selain menahan lapar dan dahaga, umat Islam juga dituntut untuk menjaga lisan, perbuatan, dan hati agar tetap dalam koridor ketakwaan.
Konsep puasa bukanlah hal yang baru dalam tradisi keagamaan. Sebelum Islam, umat-umat terdahulu seperti Yahudi dan Nasrani juga memiliki praktik puasa. Namun, tata cara dan waktunya berbeda dengan yang diajarkan dalam Islam. Hal ini menunjukkan bahwa puasa merupakan bentuk ibadah yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan spiritual manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Tujuan utama dari puasa sebagaimana disebutkan dalam ayat 183 Surah Al-Baqarah adalah agar manusia mencapai derajat takwa (la'allakum tattaquun). Ketakwaan menjadi parameter utama dalam kehidupan seorang Muslim. Tidak hanya dalam bulan Ramadan, tetapi juga setelahnya, seseorang diharapkan tetap menjaga nilai-nilai ketakwaan yang telah diperoleh selama berpuasa. Sebab, Ramadan bukan hanya sekadar bulan menahan diri dari lapar dan dahaga, melainkan ajang pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.
Ketakwaan memiliki hubungan erat dengan keimanan. Semakin tinggi tingkat ketakwaan seseorang, semakin kuat pula keimanannya kepada Allah. Orang-orang yang bertakwa dijanjikan berbagai keberkahan dan kemudahan dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, puasa bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah bentuk latihan spiritual yang berdampak besar pada kualitas keimanan seseorang.
Sebagai kesimpulan, puasa adalah ibadah yang tidak hanya melatih fisik tetapi juga mental dan spiritual. Dengan berpuasa, seseorang belajar menahan diri, meningkatkan kesabaran, serta memperkuat hubungan dengan Allah. Oleh karena itu, sudah seharusnya umat Islam menyambut Ramadan dengan semangat dan kesiapan, agar dapat menjalani ibadah ini dengan penuh keikhlasan. Harapannya, setelah Ramadan berlalu, kita tetap mampu mempertahankan ketakwaan yang telah terbentuk, sehingga menjadi hamba yang lebih dekat dengan Allah dalam setiap aspek kehidupan.